Lembaga Ketahanan Desa

Koordinasi lintas desa seluruh Nusantara

Loading
Your notification request was sent. Thank you!

Visi

Visi Lemhades adalah menjadi Lembaga terpercaya untuk melahirkan sosok pemimpin tingkat perdesaan dan mendukung pemerintah dalam percepatan hasil-hasil pembangunan yang mensejahterakan rakyat, serta terciptanya ketahanan Desa. Misi utama kami adalah Pemberdayaan dan pendampingan pelaku ekonomi dan bisnis perdesaan.

Bekerja lebih awal.

Apa yang bisa dikerjakan hari ini, jangan tunggu hari esok.

  • Membuat catatan harian
  • Menganalisa kesalahan.
  • Tindakan perbaikan.

Masyarakat desa tidak terbelakang seperti perkiraan sebagian orang. Dengan hadirnya teknologi informasi banyak informasi yang tercatat di media sosial. Catatan tersebut akan lebih sempurna lagi bila terstruktur dan dapat dikemas dalam format Geospasial.

...
Visi

Visi Lemhades adalah menjadi Lembaga terpercaya untuk melahirkan sosok pemimpin tingkat perdesaan dan mendukung pemerintah dalam percepatan hasil-hasil pembangunan yang mensejahterakan rakyat, serta terciptanya ketahanan Desa. Misi utama kami adalah Pemberdayaan dan pendampingan pelaku ekonomi dan bisnis perdesaan.

...
Misi

Menggali potensi sumber daya desa baik alam dan manusianya dengan mengoptimalkan inovasi teknologi tepat guna.

...
Catatan Desa

Budaya mencatat sudah ada sejak zaman dulu, bahkan ada sebagain yang menjadi kitab. Budaya mencatat ini harus dilatih dan dibiasakan sejak kecil.

Rencana Kegiatan

Penerapan Kebijakan Satu Peta dari Desa

Kebijakan Satu Peta (KSP) menjadi sebuah program nasional untuk kepentingan bersama. KSP membagi perwalian peta sesuai dengan sektor masing-masing, misalnya Peta Desa. Peta Desa ini bisa dioptimalkan muatan informasinya yang lebih lanjut. Banyak informasi yang bisa dilekatkan pada desa tersebut, misalnya kebutuhan pokok, kemampuan pasokan bahan baku dan pendanaan.
Bila seluruh desa punya kesadaran yang sama arti pentingnya membangun Geospasial, maka segala kebijakan dalam skala daerah dan nasional dijamin akan tepat sasaran, baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan.

Aspek Ketahanan Desa, baik itu pangan,sosial, kesehatan, keamanan dan yang lainnya dapat dikaitkan dalam satu obyek spasial yang sama yaitu batas desa.

Gagasan dan Inovasi

Pemetaan Partisipatif

Nara Sumber: Singgih Supriyanto

Pemetaan Partisipatif adalah solusi buat percepatan membangun Geospasial , yaitu melibatkan seluruh lapisan masyarakat yang tinggal di wilayah yang didata. Cara ini akan banyak menghemat biaya, dengan catatan disiapkan fasilitas yang memadai dan pembekalan ketrampilan secukupnya. Fasilitas tersebut berupa platform untuk menyimpan data yang disediakan oleh Lemhades dan peralatan input dengan menggunakan smart phone yang sekarang sudah terjangkau harganya oleh masyarakat.
Sudah saatnya desa sadar dan mandiri dalam pendataan. Yang tahu persis kondisi sebuah desa ya penduduk desa yang bersangkutan. Bahkan anak-anak pun bisa dilibatkan, maksudnya sekalian edukasi sejak dini arti pentingnya pendataan. Misalnya siapa saja penduduk yang punya usaha ternak sapi dan berapa ekor sapi yang mereka punya. Data yang sederhana ini setelah terhimpun seluruh Indonesia akan jadi informasi yang sangat penting. Dan kapanpun ada perubahan data, sapinya ada yang melahirkan misalnya, maka pembaharuan data pun bisa langsung dilakukan dengan mudah dan cepat.


Redefinisi Ekonomi Indonesia

Nara Sumber: Mangasa Augustinus Sipahutar

Pemberitaan di berbagai media massa sejak awal tahun 2019 tidak terlepas dari pandemi virus corona baru atau yang sering disebut Covid-19. Pandemi ini telah mendegradasi hampir seluruh sisi kehidupan umat manusia di planet Bumi. Ketika terjadi penetapan lockdown atau karantina lokal atau social distancing di hampir seluruh negara, maka seluruh sisi kehidupan menurun secara drastis di semua negara.

Dari perspektif ekonomi, pembatasan-pembatasan yang terjadi untuk meminimalisir pertambahan penularan virus corona ini telah memukul sisi produksi atau aggregate supply, lalu pukulan yang terjadi di sisi produksi tersebut secara langsung memukul sisi permintaan atau aggregate demand. Pukulan dari dua sisi perekonomian yang berlangsung secara bersamaan tersebut membuat prediksi pertumbuhan ekonomi hampir semua negara anjlok, bahkan banyak prediksi ekonomi mengarah kepada pertumbuhan ekonomi negatif.

Indonesia tidak terlepas dari keadaan ini. Sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintah dan bank sentral di hampir seluruh negara, Indonesia juga menjalankan relaksasi baik fiskal maupun moneter melalui berbagai stimulus. Pemerintah di manapun berusaha untuk menopang daya beli masyarakatnya yang memburuk akibat pandemi Covid-19 ini melalui serangkaian kebijakan yang diupayakan untuk mendongkrak aggregate demand tidak jatuh terlalu dalam. Yang terakhir ini, melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2020, pemerintah membuka batasan defisit APBN terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) yang semula dibatasi 3%, dan diperbolehkannya Bank Indonesia untuk masuk di pasar primer. Tujuannya hanya satu, yaitu bahwa pemerintah mencoba menahan pemburukan kualitas hidup masyarakat akibat pelemahan yang terjadi di sisi aggregate supply.

Yang paling menarik perhatian pada Perppu yang baru saja ditetapkan tersebut adalah masuknya Bank Indonesia (BI) di pasar primer. Dalam hal ini, pemerintah menyadari bahwa penurunan perekonomian global akan berdampak pada penyerapan surat berharga yang diterbitkannya. Jika BI tidak masuk di pasar primer, tidak ada jaminan bahwa surat berharga yang diterbitkan pemerintah akan terserap. Jika hal ini terjadi, maka dana yang diharapkan untuk stimulus perekonomian melalui penerbitan surat berharga tidak dapat dicapai.

Meskipun kebijakan pemerintah ini tidak lepas dari perdebatan baik oleh kalangan ekonom maupun politisi, namun patut dicatat bahwa kebijakan ini adalah langkah terbaik di situasi terburuk. Dalam situasi yang ekstrim saat ini, tidak tersedia cukup banyak opsi bagi pemerintah kecuali membiarkan APBN pada situasi defisit yang terbuka. Terbukanya defisit APBN adalah jalan dan hanya itu yang dapat dilakukan demi menyelamatkan perekonomian yang berfokus pada penyelamatan daya tahan ekonomi rakyat.

Tentu, siapapun pasti mengharapkan pandemi Covid-19 ini segera berakhir. Seluruh umat manusia di belahan dunia manapun berjuang untuk mematikan penyebaran virus corona yang mematikan ini.

Lalu, ketika pandemi Covid-19 ini berakhir, apa yang akan terjadi pada perekonomian kita? Apa dampak dari kebijakan ekspansi fiskal dengan seluruh stimulus ekonomi yang dilakukan pemerintah? Apa dampak dari ekspansi atau relaksasi moneter yang dilakukan BI?

Melangkah sedikit ke arah pasca Covid-19 tentu bukanlah hal yang tidak tepat saat ini. Beban tugas pemerintah dan BI pasca Covid-19 tidak kalah beratnya dibandingkan di situasi saat ini di kala kita masih berjuang menghentikan penyebaran Covid-19 tersebut.

Tidak bisa dimungkiri bahwa akibat kebijakan fiskal dan moneter yang ekspansif, jumlah uang beredar meningkat tajam, dan akibatnya, harga-harga meningkat. Namun patut diketahui, akibat pandemi Covid-19 ini, meskipun tanpa peningkatan jumlah uang beredar, harga-harga sudah naik karena terjadi pemburukan atau guncangan pada aggregate supply. Oleh karena itu, peningkatan jumlah uang beredar selama masa darurat ini tentu membuat harga-harga akan mengalami kenaikan yang berlanjut. Lalu, ketika nanti situasi sudah stabil, bagaimana dengan harga?

Pada situasi pasca Covid-19, realita perekonomian kira-kira sebagai berikut: jumlah uang beredar yang besar akibat stimulus fiskal dan moneter, produksi yang merosot akibat aggregate supply shock, pendapatan agregat menurun meskipun sudah menikmati stimulus fiskal dan moneter, pengangguran kemungkinan besar meningkat dan kemiskinan kemungkinan besar meningkat seiring dengan peningkatan pengangguran.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah situasi seperti ini hanya akan dialami Indonesia? Tentu tidak. Hampir semua negara akan mengalaminya. Lalu, dapat dikatakan bahwa seluruh dunia akan berangkat dari situasi yang sama, berangkat dari starting point yang relatif sama.

Ketika perekonomian kita mulai berjalan pasca Covid-19, yaitu ketika perekonomian beroperasi normal, tentu kita perlu mencermati rantai pasokan produksi. Selama ini, Indonesia cenderung mengalami defisit neraca perdagangan akibat impor yang lebih besar dari ekspor. Industri kita membutuhkan bahan baku impor untuk produksi, sementara itu, di negara lain di mana kita selama ini melakukan impor, juga mengalami situasi yang relatif sama dengan Indonesia. Sama seperti di Indonesia, industri di negara lain juga mulai dari awal, dan tentu mengalami juga kesulitan dalam hal rantai pasok untuk proses produksinya.

Akibatnya, harga-harga komoditas impor akan mengalami kenaikan, dan nilai tukar rupiah akan mengalami depresiasi.

Kita akan berhadapan dengan situasi di mana akan terjadi kenaikan harga atau inflasi di satu sisi, dan penurunan output perekonomian yang mengakibatkan peningkatan pengangguran di sisi lain. Perekonomian kita berada pada stagflasi, yaitu situasi di mana inflasi meningkat dan pengangguran juga meningkat akibat penurunan output. Jika untuk mencoba meminimalisir dampak stagflasi BI dan pemerintah mengeluarkan kebijakan stimulus yang berdampak pada peningkatan jumlah uang beredar, maka situasi yang ditimbulkan akan menjadi lebih buruk lagi.

Sebagaimana yang dikemukakan bahwa setiap negara mengalami hal yang sama dan akan berangkat dari starting point yang sama pasca Covid-19, maka stagflasi tidak hanya akan dialami Indonesia.

Oleh karena itu, situasi ini harus dapat dijadikan sebagai momentum untuk melakukan redefinisi atau pendefinisian ulang terhadap perekonomian Indonesia. Kerangka berpikir ekonomi kita yang selama ini masih didominasi kerangka berpikir ekonomi sektoral perlu diredefinisi.

Terlalu banyak hambatan yang kita hadapi jika kita hanya ingin meningkatkan sektor pertanian, sektor perikanan, sektor pertambangan dan sektor-sektor ekonomi lainnya. Hambatan utama justru berasal dari egosektoral di masing-masing sektor ekonomi itu sendiri, sedemikian rupa sehingga egosektoral tersebut tidak saja menafikan sektor ekonomi lainnya tetapi juga menafikan tata perekonomian secara spasial.

Menggerakkan satu sektor ekonomi di suatu kawasan tentu akan berbeda dengan kawasan lainnya. Jika mengedepankan egosektoral ekonomi tertentu, maka hambatan berikutnya pada egospasial menjadikan pembangunan ekonomi kita akan selalu mengalami benturan pada tahapan eksekusi.

Redefinisi perekonomian Indonesia yang dimaksudkan adalah dengan menemukan dan menentukan economic key driver pada setiap kebijakan pembangunan berbasis ekonomi spasial.

Economic key driver merupakan pemantik yang memicu pertumbuhan sektor ekonomi lainnya dan sekaligus mendorong interkoneksi antarkawasan dalam proses pembangunan ekonomi. Sebagai pemantik, economic key driver akan mendorong pertumbuhan berbagai sektor ekonomi secara bersama-sama, namun poros pembangunannya tetap berada pada economic key driver tersebut.

Sebagai salah satu contoh, ketika suatu kawasan ditetapkan sebagai destinasi pariwisata nasional, maka yang terjadi adalah bahwa fokus pembangunan diarahkan pada sektor pariwisata tersebut. Jika destinasi pariwisata tersebut berada di beberapa kabupaten yang berbatasan langsung secara spasial, maka setiap kabupaten cenderung membangun infrastruktur pariwisata yang sama secara bersamaan. Masing-masing kabupaten bukannya bersinergi tetapi malah memunculkan kompetisi yang tidak perlu, dan pada akhirnya tidak menciptakan nilai ekonomi.

Egosektoral dan egospasial justru menjadi penghalang bagi pencapaian tujuan kawasan tersebut sebagai destinasi pariwisata. Dalam hal inilah perlu menemukan economic key driver dan menjadikan economic key driver tersebut sebagai pemantik untuk memicu pertumbuhan sarana dan prasarana sektor pariwisata.

Bisa saja, economic key driver yang ditetapkan adalah komoditas kopi. Kopi menjadi pemantik, di mana masing-masing kabupaten menetapkan rantai nilai komoditas kopi antarkabupaten di kawasan tersebut yang mampu mendorong tidak saja komoditas kopi itu sendiri, tetapi juga sektor pertanian yang lebih luas, dan puncaknya adalah pembangunan sektor pariwisata.

Dengan demikian tidak terjadi lagi tumpang tindih pembangunan sarana dan prasarana pariwisata di masing-masing kabupaten. Kompetisi antarkabupaten berubah menjadi sinergi antarkabupaten dengan rantai nilai yang terintegrasi di dalam suatu kawasan. Ini hanyalah satu contoh kecil tentang peluang bagi Indonesia untuk memulihkan ekonomi dengan fundasi yang lebih baik pasca Covid-19 ini.

Selalu saja ada peluang di tengah krisis. Penetapan economic key driver bagi perekonomian Indonesia menjadikan penggunaan sumber daya ekonomi kita menjadi optimal dengan pondasi yang lebih kokoh.




Siapakah Pahlawan Sebenarnya?

Nara Sumber: Nahum Eka Wanda

Ketika ada bencana orang selalu bicara tentang korban dan di masyarakat selalu kasak kusuk mengagung-agungkan pihak yg datang menolong, bahkan mereka sering dianggap Pahlawan atau malaikat penolong. Banyak orang akan mengenang jasa dan tindakan sang Pahlawan, dia begitu populer saat itu.

Misalkan ada kebakaran hebat dari kios bensin yang menyala karena sebatang rokok, dimana sang jago merah melalap apa saja yang dilaluinya, ketika ada pihak yang berhasil memadamkan lebih awal supaya kebakaran tersebut tidak meluas maka sang pemadam akan dipuja sebagai Pahlawan.

Ketika cerita ini ditarik kebelakang sebenarnya ada si A yang sudah berulangkali mengingatkan kepada pemilik kios bensin agar tidak menjual rokok dan memberi tahu cara menyimpan bensin yang baik dan benar namun Sang pemilik kios alih- alih berterima kasih, dia justru tersinggung dengan masukan si A. Lalu Dia mengatakan kepada si A sok tahu, syirik atas bisnis orang, nggak suka liat orang lain dapat rejeki dan sebaliknya bahkan pemilik kios memusuhinya.

Namun ketika bencana yang tak pernah diduga itu datang dan memakan korban maka penyesalan sudah tak ada guna. Orang lupa kepada si A yang dulu pernah mengingatkannya. Orang hanya ingat kepada "pahlawan" yang datang memadamkan api. Demikian pula tentang lingkungan. pelaku reforestasi, aktifis lingkungan sering dianggap pihak yang rewel, sok tahu, kurang kerjaan menanami lahan kritis, apalagi aktifis lingkungan mencegah penebangan hutan, mereka akan dianggap orang tak ada kerjaan yang suka menghalangi rejeki orang lain. namun ketika musibah banjir bandang, tanah longsor datang secara tiba-tiba di malam hari yang dingin serta merengut nyawa anak anak kecil tak berdosa, merampok nyawa orang tua yang lemah maka penyesalan atas kerugian menjadi tak tertebus dan tak ada artinya.

Aktifis penanam pohon selalu dilupakan, nama mereka tak pernah hadir ketika semua pohon tertanam dengan baik sehingga alam lestari, kita bukan mau dianggap pahlawan tetapi memang kita suka menanam pohon di kebun Tuhan agar bumi lestari dan manusia hidup sejahtera.

Seperti yang diajarkan Letjen TNI Doni Monardo sang Jenderal dan tokoh militer yang peduli lingkungan dan hobby menanam pohon ini, Agar kita harus selalu menjaga hubungan baik dengan Tuhan, manusia maupun alam. menjaga kelestarian lingkungan adalah tanggungjawab kita bersama bukan hanya kelembagaan atau orang tertentu saja. Apa yang kita tanam hari ini akan kita tuai di kemudian hari. Jangan pernah berpikir ini terjadi karena kerja atau saran saya ataupun itu karena saya tetapi berpikirlah ini dan itu untuk kita semua terutama untuk generasi penerus masa depan bangsa.

Lantas apakah kita telah menjadi Pahlawan bagi alam sekitar??

Marilah kita renungkan bersama, bahwa apa yang terjadi di bumi ini ada hukum sebab dan akibat bukan terbentuk begitu saja. bersama kita saling mengingatkan dalam kebaikan,

Jagalah Alam maka Alam akan menjaga kita dan Jadilah pahlawan untuk banyak orang .

Nomor Kontak

Jl Radio IV No.1
Kebayoran Baru,
Jakarta Selatan 12130

+62 818 122 388

Loading
Terimakasih